Tampilkan postingan dengan label slide. Tampilkan semua postingan
0 comment
Senin, 30 Juni 2014
Bumigaram,Sumenep- Beberapa orang warga dari tiga desa di Kecamatan Kalianget yaitu Desa Marengan, Karanganyar dan Pinggirpapas menghadang Truk yang memuat garam curah milik PT.Garam (Persero) Senin,30/06/2014. Hal ini dilakukan karena bentuk kekesalan warga dengan kondisi jalan rusak di desa mereka dan juga banyaknya ceceran garam di sepanjang jalan ketika musim kemarau. Warga menuntut agar pihak BUMN tersebut bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan di tempat mereka.
Sempat terjadi ketegangan antara warga dengan satpam PT.Garam (Persero) sebelum akhirnya truk dibiarkan lewat. Perwakilan PT.Garam (Persero) mengatakan pihaknya siap menyampaikan masalah itu pada bagian teknik, dan meminta masyarakat membicarakan hal itu dengan kepala dingin.
Merasa tidak puas dengan penjelasan Pihak PT.Garam (Persero) beberapa orang pemuda Desa Karanganyar menemui Kepada Desa mereka di Balai Desa Karanganyar. Dalam pertemuan antara Kepala Desa dan elemen pemuda Karanganyar itu Kepala Desa H.Suharto Hadi,SH.setuju terhadap tuntutan warga yaitu meminta agar ada perbaikan jalan dan melarang truk bermuatan garam curah, namun pihaknya meminta agar disampaikan dengan cara yang benar dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum.
0 comment
Senin, 16 Juni 2014
Suarapinggirpapas,Sumenep- Senin,16/06/2014 terlihat alat berat milik PT.GARAM (Persero) sedang mengeruk sungai yang berada di Dusun Dhalem Pinggirpapas.Sebelum dikeruk sungai yang berada di desa Pingggirpapas ini memang sangat memprihatinkan. Selain faktor puluhan tahun tak pernah dikeruk, juga diakibatkan kebiasaan masyarakat setempat yang membuang sampah ke sungai. Ditambah lagi masyarakat setempat yang tinggal di pinggir sungai melakukan penimbunan di pinggir sungai untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Alhasil sungai yang sudah dangkal semakin sempit saja hanya tersisa beberapa meter. Di beberapa titik ada yang lebarnya tinggal 1 sampai 2 meter saja. Lebih dari itu bau menyengat juga menjadi konsumsi masyarakat sekitar setiap hari.
Pengerukan ini disambut gembira oleh warga setempat, pasalnya mereka sudah lama menginginkan sungai mereka lancar seperti puluhan tahun yang lalu. Meskipun sempat beberapa kali warga Dusun Dhalem melakukan kerja bakti mengeruk sungai, tapi hasilnya tidak maksimal. Exavator yang sepertinya milik PT.GARAM (Persero) ini dikawal oleh beberapa sekuriti dari PT.GARAM (Persero). Beberapa WC Sungai yang berdiri diatas sungai yang dilalui oleh exavator ikut dirobohkan untuk mempermudah proses pengerukan.
Sejumlah warga juga tampak menyaksikan langsung jalannya pengerukan ini. Warga juga berharap agar pengerukan ini bisa dilakukan secara berkala sehingga sungai di lingkungan mereka kembali seperti puluhan tahun lalu dan juga ada ketegasan pihak terkait agar tidak ada warga yang menimbun sungai untuk dijadikan pemukiman atau lahan garam.
0 comment
Suarapinggirpapas,Sumenep- Hampir setiap malam sejak beberapa minggu lalu pemandangan tak biasa terlihat di Desa Pinggirpapas, Karanganyar dan beberapa desa lain di kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Truk besar berseliweran di desa-desa tersebut. Kendaraan ini sengaja di datangkan oleh beberapa ketua kelompok petani garam yang bekerja ke luar daerah. Seperti terlihat pada Senin malam, 16/06/2014 nampak “kloter” yang kesekian kalinya diberangkatkan dari “embarkasi“Pinggirpapas dan Karanganyar. beberapa warga terlihat sangat sibuk menaikkan barang-barang perlengkapan sehari-hari dan juga perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk bekerja di tempat tujuan.
Setelah semua barang perlengkapan dinaikkan ke dalam truk, satu persatu warga ini naik ke dalam truk yang tertutup terpal. Mulai bayi yang berusia beberapa bulan hingga orang tua renta terlihat ikut serta dalam rombongan. Bayi dan juga orang tua renta ini terpaksa ikut serta dalam rombongan mengingat di rumah mereka tak ada yang mengurus karena juga sudah berangkat bekerja ke luar daerah lebih dulu. Tak terkecuali anak yang masih dibangku sekolah, baik TK ataupun SD. Mereka juga terpaksa cuti dari sekolah karena ikut orang tuanya berangkat bekerja ke luar daerah. Di rantau anak-anak inipun harus merasakan teriknya matahari, dinginnya malam dan gigitan nyamuk liar.Isak tangispun mewarnai malam keberangkatan ini. Maklum hampir 6 bulan lamanya mereka akan terpisah jauh dari sanak saudara hingga akhir musim garam.
Truk yang mengangkut barang dan orang ini berangkat ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan dan berbagai daerah lain termasuk beberapa kabupaten di Madura. Pemandangan seperti ini memang sudah biasa terjadi setiap tahunnya di beberapa desa. Umumnya mereka yang berangkat bekerja dengan sistem bagi hasil dilahan garam milik orang di luar daerah. Mereka terpaksa bekerja ke luar daerah untuk mencari penghidupan yang lebih baik mengingat keterbatasan lahan di desanya. (Aby)
0 comment
Jumat, 06 Juni 2014
Suarapinggirpapas,Sumenep-Tak ada yang berbeda dari pelaksanaan ibadah Sholat Jum’at hari ini (6/6/2014) di Mesjid Al-Muqorrobin Desa Pinggirpapas Kabupaten Sumenep. Usai sholat Jum’at biasanya ada dzikir berjamaah beberapa menit sebelum para jamaah meninggalkan mesjid. Namun kali ini berbeda, usai sholat takmir masjid berdiri dan menyampaikan kabar yang sangat menyakitkan.
“Saya akan menyampaikan kabar duka, bahwasanya kas mesjid yang berada di dalam kotak Amal telah dicuri orang,” ucap takmir mesjid H. Mahbub Ilahi. Mendengar berita ini sontak para jemaah tercengang, dan terlihat beberapa diantaranya menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya. Kemudian H.Mahbub melanjutkan ucapannya. “Mari kita kirim fatihah dan do’akan bersama agar si pencuri segera diberi hidayah oleh Allah dan sadar akan kesalahannya,” kata H. Mahbub dengan nada sedih.
Pencurian ini mungkin yang pertama kali terjadi di Mesjid Al-Muqorrobin. Sebelumnya di mesjid desa tetangga pencurian uang dan barang-barang berharga yang ada di mesjid Hairul Jannah Desa Karanganyar Sumenep sudah sering terjadi. Untuk itulah kemudian Ketua takmir Mesjid setempat berinisiatif mengunci mesjid dan hanya membukanya disaat-saat sholat fardhu dan ketika ada kegiatan keagamaan saja.
0 comment
Jumat, 09 Mei 2014
Kumuh dan bau, itulah kesan pertama ketika melihat kondisi pinggiran Desa Pinggirpapas. Pinggirpapas adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh lahan pegaraman. Letak geografis desa ini berada dalam Kecamatan Kalinget Kabupaten Sumenep. Dari lokasi ini PT.Garam (Persero) yang merupakan salah satu BUMN telah memproduksi jutaan ton garam untuk kebutuhan nasional.
Jumlah Penduduk desa ini hampir mencapai 5.000 jiwa dan di Desa Pinggirpapas sedikit sekali tanah lapang. Hampir seluruh tanah di desa ini dipenuhi rumah-rumah penduduk. Disudut-sudut desa terutama di pinggiran desa tampak sampah berserakan. Di pinggir sungai sampah ini bercampur dengan kotoran manusia, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Maklum mayoritas penduduk desa Pinggirpapas punya kebiasaan buang air besar di sungai. Jamban (WC Sungai) dapat kita lihat dibeberapa lokasi. Dan sebagian besar masyarakat desa ini tidak memiliki WC di rumah.
Sungai yang dulunya lebar dan dalam, beberapa tahun terakhir mulai mengalami pendangkalan akibat kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Hal ini juga diperparah dengan ulah sebagian warga yang sengaja menimbun sungai untuk kemudian mendirikan rumah disitu. Alhasil sungai menjadi semakin sempit.
Ketika air surut kondisi jamban sungai ini sungguh sangat memprihatinkan, bahkan bisa dibilang pemandangan yang “mengerikan”. Betapa tidak, sampah berserakan hampir diseluruh bagian sungai bercampur dengan kotoran manusia.
Kesadaran akan pentingnya sungai yang dalam untuk keberlangsungan jamban (wc sungai) akhirnya mendorong warga di salah satu dusun. Warga RT 05 dan RT 06 Dusun Dhalem sempat bergotong royong untuk mengeruk sungai. Namun hal itu rupanya tidak bertahan lama, setahun kemudian sudah dangkal kembali. Warga dua RT ini juga pernah mengajukan proposal kepada PT.Garam (Persero) terkait pengerukan sungai. Namun bertahun-tahun mereka menunggu tak ada respon apapun dari pihak PT.Garam .
Kondisi ini rupanya mengundang kprihatinan dari mahasiswa yang tegabung dalam Kaukus Mahasiswa Sumenep ( KMS ). Beberapa waktu lalu mereka terjun langsung untuk melihat kondisi desa ini dan sempat beraudiensi dengan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sumenep serta sejumlah kepala bagian dan kepala dinas di Pemkab, namun belum juga ada perubahan.
Baru-baru ini tepatnya tanggal 13 Desember 2013 Kaukus Mahasiswa Sumenep (KMS) juga sempat mendemo kantor PT Garam (Persero) di Jalan Raya Kalianget. Mereka menuntut perusahaan terbuka soal dana CSR (Corporate Social Responcibility). Dan juga meminta perusahaan garam milik negara itu bertanggung jawab atas dampak lingkungan atau cominity development (CD).
Bahkan, mereka mensinyalir CSR sama sekali tidak dilaksanakan karena tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat sekitar. Namun Pihak PT.Garam (Persero) membantahnya, menurut pihak BUMN ini bukan hanya CSR saja, malah perusahan telah melaksanakan program kemitraan dan bina lingkungan.
Lalu jika semua itu benar, mengapa masyarakat banyak yang tidak tahu ? dan mengapa lingkungan mereka tetap saja kumuh..????
0 comment
Sumenep- Lihat Wajahnya, matanya terlihat cekung tatapannya kosong. Lihat badannya, hanya tinggal daging pembungkus tulang. Tak ada lagi sisa senyum di wajahnya, yang ada hanya rintihan kesedihan dan kepasrahan. Dialah Juma’asi warga Desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep pemegang “Kartu Perlindungan Sosial” . Tubuhnya terbaring lemah tak berdaya akibat penyakit komplikasi yang di deritanya. Penyakit yang menggerogotinya selama bertahun-tahun telah membuat segalanya menjadi kelabu. Juma’asi sempat dirawat selama 4 hari di RSUD Dr.Moh. Anwar Sumenep. Juma’asi menderita Gagal Ginjal, Kencing Manis, dan entah apalagi, yang jelas dokter RSUD Moh. Anwar mengatakan bahwa penyakit wanita miskin ini komplikasi dan sudah kronis. Pihak RSUD Sumenep sudah menyarankan agar Juma’asi dirujuk ke Surabaya untuk menjalani cuci darah. Namun apa daya pihak keluarga terpaksa membawa pulang karena alasan ketidak tahuan dan alasan ekonomi. Saat ini, dirumah kecil dan kamar yang sempit keluarga ini hanya bisa pasrah dan menunggu detik-detik Sang Malaikat maut menjemput Juma’asi.
“Apa yang bisa kami lakukan..??, kami hanya bisa pasrah” begitu ungkap Bahrabi, suami Juma’asi yang sejak lama juga menderita penyakit lumpuh. Sejak beberapa tahun yang lalu kehidupan keluarga ini memang sungguh memilukan.
Sebelum Juma’asi menderita sakit, suaminya sudah menderita kelumpuhan. Suaminya berjalan menggunakan tongkat dan seringkali terjatuh. Pasangan ini dikaruniai delapan orang anak. Enam anak sudah berkeluarga, tinggal dua anak lelaki dan seorang anak perempuannya yang baru saja bercerai dengan suaminya. Namun mereka juga tidak punya pekerjaan tetap, hanya ketika musim kemarau mereka bekerja menggarap lahan garam milik orang lain. Sementara ketika musim penghujan mereka tidak bekerja. Praktis beban hidup keluarga ini sangat berat, untuk makan saja mereka mengandalkan dan menunggu pemberian anak-anak mereka yang sudah berkeluarga. Sementara anak-anak mereka yang berkeluarga juga bekerja seadanya hanya cukup untuk makan saja.
“Sejujurnya, untuk makan saja kami merasa malu pada menantu kami” ujar Bahrabi sambil matanya berkaca-kaca, “Sekarang ini nasib istri saya sudah sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan,Sirin Allah Tulung Allah (semua dipasrahkan kepada Allah)
Bahrabi juga mengungkapkan bahwa selama istrinya sakit sebetulnya membutuhkan minimal 4 popok dalam sehari. Harga satu popok Rp.3.000 yang berarti dalam sehari minimal butuh Rp.12.000, namun kerena tak memiliki apapun hal itu hanya dilakukan selama beberapa hari sejak istrinya tak bisa beranjak dari tempat tidur. Saat ini keluarga mengganti popok Juma’asi dengan kain bekas. Dan ini menyebabkan kamar tempat ia berbaring dipenuhi dengan aroma yang kurang sedap.
Disisi lain yang tak kalah mengenaskan adalah nasib Bahrabi, Suami Juma’asi ini tidak berani makan dan minum sesuka hati, dia harus rela menahan lapar dan haus, karena takut jika banyak makan dan minum dia akan sering ke kamar kecil. Dan sekedar tambahan informasi keluarga ini tidak memiliki WC dirumahnya. Sehingga untuk buang air besar Bahrabi harus berjalan sejauh + 100 meter dari rumahnya untuk mencapai WC sungai sambil berjalan menggunakan tongkat dan sesekali terjatuh.
Bahrabi dan istrinya tetap berharap semoga Tuhan memberi keajaiban dan orang atau pihak yang peduli akan nasib mereka.Sungguh memilukan dan menyayat hati nasib keluarga ini, kemana lagi mereka mengadu.
Kisah sedih Juma’asi mungkin hanya satu dari beberapa kisah di negeri ini. Negeri ini konon kaya dengan sumberdaya alam, tapi mengapa rakyatnya sengsara, dimana pemimpin mereka..??? dimana wakil mereka..??? . Negeri ini memang besar, negeri ini memang kaya, namun negeri dan pemimpin negeri ini juga sedang sakit.
0 comment
Kamis, 08 Mei 2014
Sumenep- Lihat Wajahnya, matanya terlihat cekung tatapannya kosong. Lihat badannya, hanya tinggal daging pembungkus tulang. Tak ada lagi sisa senyum di wajahnya, yang ada hanya rintihan kesedihan dan kepasrahan. Dialah Juma’asi warga Desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep pemegang “Kartu Perlindungan Sosial” . Tubuhnya terbaring lemah tak berdaya akibat penyakit komplikasi yang di deritanya. Penyakit yang menggerogotinya selama bertahun-tahun telah membuat segalanya menjadi kelabu. Juma’asi sempat dirawat selama 4 hari di RSUD Dr.Moh. Anwar Sumenep. Juma’asi menderita Gagal Ginjal, Kencing Manis, dan entah apalagi, yang jelas dokter RSUD Moh. Anwar mengatakan bahwa penyakit wanita miskin ini komplikasi dan sudah kronis. Pihak RSUD Sumenep sudah menyarankan agar Juma’asi dirujuk ke Surabaya untuk menjalani cuci darah. Namun apa daya pihak keluarga terpaksa membawa pulang karena alasan ketidak tahuan dan alasan ekonomi. Saat ini, dirumah kecil dan kamar yang sempit keluarga ini hanya bisa pasrah dan menunggu detik-detik Sang Malaikat maut menjemput Juma’asi.
“Apa yang bisa kami lakukan..??, kami hanya bisa pasrah” begitu ungkap Bahrabi, suami Juma’asi yang sejak lama juga menderita penyakit lumpuh. Sejak beberapa tahun yang lalu kehidupan keluarga ini memang sungguh memilukan.
Sebelum Juma’asi menderita sakit, suaminya sudah menderita kelumpuhan. Suaminya berjalan menggunakan tongkat dan seringkali terjatuh. Pasangan ini dikaruniai delapan orang anak. Enam anak sudah berkeluarga, tinggal dua anak lelaki dan seorang anak perempuannya yang baru saja bercerai dengan suaminya. Namun mereka juga tidak punya pekerjaan tetap, hanya ketika musim kemarau mereka bekerja menggarap lahan garam milik orang lain. Sementara ketika musim penghujan mereka tidak bekerja. Praktis beban hidup keluarga ini sangat berat, untuk makan saja mereka mengandalkan dan menunggu pemberian anak-anak mereka yang sudah berkeluarga. Sementara anak-anak mereka yang berkeluarga juga bekerja seadanya hanya cukup untuk makan saja.
“Sejujurnya, untuk makan saja kami merasa malu pada menantu kami” ujar Bahrabi sambil matanya berkaca-kaca, “Sekarang ini nasib istri saya sudah sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan,Sirin Allah Tulung Allah (semua dipasrahkan kepada Allah)
Bahrabi juga mengungkapkan bahwa selama istrinya sakit sebetulnya membutuhkan minimal 4 popok dalam sehari. Harga satu popok Rp.3.000 yang berarti dalam sehari minimal butuh Rp.12.000, namun kerena tak memiliki apapun hal itu hanya dilakukan selama beberapa hari sejak istrinya tak bisa beranjak dari tempat tidur. Saat ini keluarga mengganti popok Juma’asi dengan kain bekas. Dan ini menyebabkan kamar tempat ia berbaring dipenuhi dengan aroma yang kurang sedap.
Disisi lain yang tak kalah mengenaskan adalah nasib Bahrabi, Suami Juma’asi ini tidak berani makan dan minum sesuka hati, dia harus rela menahan lapar dan haus, karena takut jika banyak makan dan minum dia akan sering ke kamar kecil. Dan sekedar tambahan informasi keluarga ini tidak memiliki WC dirumahnya. Sehingga untuk buang air besar Bahrabi harus berjalan sejauh + 100 meter dari rumahnya untuk mencapai WC sungai sambil berjalan menggunakan tongkat dan sesekali terjatuh.
Bahrabi dan istrinya tetap berharap semoga Tuhan memberi keajaiban dan orang atau pihak yang peduli akan nasib mereka.Sungguh memilukan dan menyayat hati nasib keluarga ini, kemana lagi mereka mengadu.
Kisah sedih Juma’asi mungkin hanya satu dari beberapa kisah di negeri ini. Negeri ini konon kaya dengan sumberdaya alam, tapi mengapa rakyatnya sengsara, dimana pemimpin mereka..??? dimana wakil mereka..??? . Negeri ini memang besar, negeri ini memang kaya, namun negeri dan pemimpin negeri ini juga sedang sakit.
Diberdayakan oleh Blogger.




